Headlines News :

Penyakit dan Wabah yang Muncul Gara-gara Tolak Imunisasi

MerdekaPost | Selasa, 12 Januari 2016

Penyakit dan Wabah yang Muncul Gara-gara Tolak Imunisasi
Merdekapost.net - Jakarta - Secara sederhana, Prof Dr dr Kusnandi Rusmil, SpA(K), MM dari RS Hasan Sadikin Bandung menjelaskan dampak nyata yang diakibatkan kurangnya kesadaran orang tua untuk membawa anaknya imunisasi.

"Gampang terjadi wabah, karena anaknya jadi lebih mudah menularkan kalau sakit," katanya kepada detikHealth, Selasa (12/1/2016).

Ditambahkan Dr dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi, di Indonesia, rata-rata satu bayi (usia 0-12 bulan) meninggal tiap 35 menit dan 1 balita (0-60) meninggal tiap 12 menit. Usut punya usut, salah satu penyebabnya adalah kurangnya kepedulian orang tua terhadap pentingnya imunisasi bagi anak.

Pakar tumbuh kembang anak itu juga membuktikan adanya tiga wabah penyakit besar yang terjadi di Indonesia sebagai dampak dari sikap apatis tersebut, misalnya polio, campak dan difteri.

1. Polio
Diungkapkan dr Soedjatmiko atau lebih akrab disapa dr Miko, di tahun 2005-2006, terjadi wabah polio di Sukabumi dan sebagian Madura. Total korbannya mencapai 351 anak dan 305 di antaranya mengalami lumpuh permanen. Setelah dicek, 30 persen dari anak-anak ini tidak mendapatkan imunisasi sama sekali dan 40 persen lainnya memperoleh imunisasi tetapi tidak lengkap.

Tak hanya di Indonesia, Pakistan juga tergolong sebagai negara dengan endemik polio yang tinggi. Namun warganya banyak yang tak mau memberi anaknya vaksin polio karena percaya itu merupakan upaya terselubung yang dilakukan pemerintah untuk mensterilisasi warganya. Bahkan tim vaksinasi polio yang diturunkan pemerintah diserang oleh warga.

Akibatnya, pada bulan Oktober 2014, kasus polio di negara ini meningkat tajam dengan jumlah kasus mencapai 200. Untuk memastikan program vaksinasi berjalan, pemerintah pun sampai harus menurunkan tentara untuk mengawal tim vaksinasi. Berkat mereka, di tahun 2015, angka tersebut turun hingga tinggal 25 kasus.

2. Difteri
Karena alasan yang sama, dr Miko mengungkap dalam kurun tahun 2009-2011, terjadi wabah difteri di Jawa Timur. Jumlah anak yang dirawat akibat difteri saat itu mencapai 1.200 anak lebih dan yang meninggal sebanyak 120 anak.
Gerakan antivaksin juga memicu terjadinya kejadian luar biasa (KLB) di Aceh dan Sumatera Barat di tahun 2014. Setelah diusut, di dua provinsi tersebut, angka cakupan vaksinnya turun drastis. Dari yang semula mencapai 85-90 persen, saat kejadian hanya tinggal di kisaran 35 persen. Tercatat lebih dari 40 anak terserang di difteri dengan 5 di antaranya meninggal dunia.

3. Campak
Di tahun 2009-2011 juga terjadi KLB campak di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Korbannya mencapai 5.000 anak, dan 16 di antaranya meninggal. Oleh dr Miko, kondisi ini lagi-lagi dikaitkan dengan rendahnya cakupan imunisasi di sejumlah daerah.

Dalam kesempatan lain, Dr dr Yuda Taruna, SpS dari Universitas Katholik Atmajaya Jakarta pernah mengungkapkan, dalam kasus tertentu, virus campak dapat memicu komplikasi radang otak atau ensefalitis, terutama pada mereka yang tidak memiliki riwayat imunisasi atau belum mendapatkannya.

4. Hepatitis
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan endemisitas tinggi sekaligus negara dengan pengidap hepatitis terbanyak ke-2 di Asia Tenggara dan sekitarnya.

Diperkirakan 9 dari 100 orang di Indonesia terinfeksi hepatitis B. Estimasi pengidap hepatitis B dan C mencapai 25 juta, 50 persen di antaranya berisiko menjadi penyakit hati kronis. Sebanyak 10 persen berisiko mengalami fibrosis, salah satu tahap menuju sirosis atau pengerasan hati, dan kemudian menjadi kanker hati.

"Karena imunisasi pada bayi baru lahir masih rendah. Itu untuk hepatitis B," kata mantan Menkes Nafsiah Mboi terkait kondisi ini beberapa waktu lalu.

5. Cacar air
Di tahun 1979, Badan Kesehatan Dunia menyatakan smallpox atau cacar air sudah punah dari muka bumi. Namun tahun lalu, di Australia masih ditemukan puluhan anak yang terkena cacar air akibat virus herpes zoster. Jumlahnya bahkan mencapai 80 anak.

Belakangan Kepala Dinas Kesehatan Victoria, Michael Ackland menyebut, ada 2 hal yang ditengarai memicu kondisi ini. Pertama, pemerintah setempat tidak mewajibkan anak divaksin, dan kedua, munculnya gerakan antivaksin di sejumlah daerah.

Hal ini terlihat dari data tingkat vaksinasi yang hanya mencapai 94 persen pada populasi umumnya dan 75 persen pada anak-anak di sekolah terkait.

6. Meningitis A
Secara global, penyakit ini juga dianggap nyaris punah. Namun di Afrika, meningitis ini masih berkeliaran. Bahkan dari catatan Badan Kesehatan Dunia, di Afrika, penyakit ini menginfeksi sedikitnya lebih dari seperempat juta orang dan menyebabkan 25 ribu kematian sejak tahun 1990-an.

Namun selepas dilakukan program vaksinasi besar-besaran, kasus meningitis A di Afrika menurun drastis, dari yang semula mencapai 1.994 (2009) menjadi tinggal 4 kasus saja di tahun 2013.

(cho)


               BACA JUGA              

Posting Komentar

 
Dipublikasikan oleh : CV. BANIO SAKTI Portal Web Merdekapost.net | Berani, Agresif, Aspiratif
Copyright © 2011. |Merdekapost.net |MERDEKAPOST.NET - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Merdekapost.net