Headlines News :

Pemerintah Belum Mampu Jinakkan Harga Pangan

MerdekaPost | Selasa, 16 Juli 2013

Pedagang sedang menunjukkan bawang merah yang
harganya masih meroket. (ANTARA/Fanny Octavianus)

Penanganan pangan sudah terlalu sentralistik oleh dua kementerian.

Merdekapost.com - Harga pangan masih tetap mencekik para konsumennya, meski sudah memasuki hari keenam Ramadan atau bulan Puasa. Komoditas pangan itu di antaranya bawang merah, daging sapi, telur ayam ras, dan daging ayam. 

Pemerintah dan sejumlah pihak terkait memang tak tinggal diam. Mereka terus melakukan berbagai cara untuk menekan melonjaknya harga-harga komoditas tersebut, yang juga membuat pedagangnya resah karena takut ditinggalkan pembeli. Di antaranya, dengan menggelar pasar murah dan memasok bahan-bahan komoditas tersebut.

Lalu, sampai kapan harga bahan pangan tersebut berhenti meroket?  Sebab, warga sudah sering kali mengeluh, karena pemerintah berjanji mengatasi, tetapi harga belum kunjung turun.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Ngadiran, Senin 15 Juli 2013, mengaku para pedagang hingga saat ini belum bisa memastikan sampai kapan harga pangan, terutama bawang merah, cabai, daging sapi, dan ayam masih bertengger di harga yang tinggi.

"Wah, saya bukan dukun yang bisa meramal kapan harga bisa turun," kata dia kepada wartawan.

Satu-satunya harapan yang mereka miliki adalah peran pemerintah. Mereka menaruh harapan kepada pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini.

"Kami ingin pemerintah terbuka kepada para importir tentang biaya dan harga, misalnya untuk biaya impor dan harga beli merek. Selain itu, kami juga ingin pemerintah menetapkan HET (harga eceran tertinggi)," ujarnya.

Sebab, menurut Ngadiran, para pedagang pasar terus mengeluhkan penghasilan yang mereka terima tidak sebanding dengan tingginya harga pangan saat ini. "Ya, kalau dari sisi pedagang, tidak ada untungnya. Yang ada, justru menjadi beban uang untuk tambah modal," kata dia.

Misalnya saat harga cabai masih seharga Rp15 ribu per kilogram, mereka menjualnya dengan harga Rp17-18 ribu per kilogram. Lalu, saat harga mencapai Rp28 ribu, mereka jual cabai dengan harga Rp28-31 ribu. Kemudian, saat harga menjadi Rp68 ribu per kilogram, mereka menjualnya dengan harga Rp70-71 ribu.

"Saat harga cabai sebesar Rp28 ribu, kami membayar bunga sebesar dua kali lipat dari bunga modal saat cabai seharga Rp15 ribu. Sementara itu, kami hanya mendapatkan untung sebesar Rp3 ribu rupiah per kilogram. Untungnya segitu-gitu saja," kata dia.

Modal yang dipinjamnya itu, menurut Ngadiran, tentunya dari koperasi dan rentenir. Akibat, keterbatasan para pedagang untuk meminjam dana dari bank. "Ya, kami meminjam dari rentenir dan koperasi karena modalnya kecil. Kalau ke bank kan, modalnya jutaan hingga miliaran rupiah. Lagi pula, bank mana mau melayani yang hanya meminjam modal kecil," tegasnya.

Sementara itu, dari empat komoditas pangan di atas, yang masih menjadi sorotan akhir-akhir ini yakni harga bawang merah karena harganya tetap terkerek naik. APPSI mencatat, harga bawang merah masih naik dari Rp30 ribuan per kilogram menjadi Rp40 ribuan. "Ini dari pasar Induk, Kramat Jati. Kalau harga dari pasar Induk naik, ya, harga di pasar tradisional juga ikut naik," kata Ngadiran.

Kenaikan harga bawang merah ini terjadi sejak tiga hari yang lalu. Sedangkan harga daging sapi, cabai keriting, dan cabai rawit bergerak stagnan tapi masih tergolong mahal. Harga daging sapi masih bercokol di level Rp100 ribu per kilogram, sedangkan harga cabai rawit dan cabai keriting masih 'pedas'. "Cabai keriting harganya Rp70 ribu per kilogram dan harga cabai rawit Rp46 ribu per kilogram," ungkap Ngadiran.

Namun, untuk telur ayam, pria ini mengaku bahwa harganya cenderung "adem ayem" di level Rp21 ribu per kilogram. "Ini memang biasa, kalau telur agak tenang harganya, saat masuk seminggu pertama bulan puasa," ujar Ngadiran.

Kemudian, khusus untuk daging ayam, harga komoditas pangan ini sempat turun sekitar Rp1.000 per kilogram, yaitu dari Rp34 ribu per kilogram menjadi Rp33 ribu per kilogram.

Hal itu, karena adanya operasi pasar yang dilakukan Kementerian Perdagangan dengan APPSI, yaitu mencoba mengintervensi harga pasar dengan menyalurkan ribuan ekor daging ayam beku pada delapan pasar tradisional.

Di tempat terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa juga mengungkapkan ada 11 komoditas yang mempengaruhi daya beli masyarakat yang cukup besar saat ini. Terutama, saat Ramadan, menjelang Lebaran, dan hari-hari besar agama.

Namun, Hatta menyebutkan dari 11 bahan pangan itu, ada empat kebutuhan yang naiknya belasan persen. "Pertama adalah cabai rawit yang naik hingga 45 persen," katanya usai mengikuti rapat kabinet terbatas bidang pangan yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Halim Perdanakusuma.

Kenaikan harga itu disebabkan oleh kurangnya pasokan dalam negeri. Kondisi ini, tak lain karena gagal panen menyusul hujan deras, dan turun terus menerus. Seharusnya saat ini sudah memasuki masa musim panen, dan harga mulai stabil. Namun ternyata, malah sebaliknya.

Bahan pangan kedua yang mengalami kenaikan cukup tinggi adalah bawang merah. Harga bumbu makanan ini naik hingga 49 persen. Mahalnya harga bawang karena musim panen tertunda hingga Agustus. 

Kemudian ketiga dan keempat adalah daging dan telur ayam. Dua bahan pangan ini naik naik belasan persen. Namun, Hatta mengklaim harga bahan pangan ini sedikit menurun. Diharapkan, menjelang Lebaran nanti harganya kembali stabil. 

Hatta mengklaim tak semua harga pangan melambung.  Ia mengutarakan, dari laporan Kementerian Perdagangan, harga minyak goreng malahan turun. Selain itu, harga beras juga stabil. Bahkan saat ini, mencapai stok tertinggi, yakni 2,961 juta ton.

Untuk daging sapi, ia mengungkapkan akan ada intervensi pasar oleh Perum Bulog dengan mengimpor daging tiga ribu ton. Impor daging ini akan tuntas 25 Juli 2013.

Selasa atau Rabu besok akan masuk daging lewat Soekarno Hatta sebanyak 500 ribu ton, dan pada pekan depan 300 ton. "Sedangkan sisanya 2.200 ribu ton lewat Tanjung Priok paling lambat 25 Juli," ujarnya. 

Langkah Pemerintah
Sementara itu, Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan dan APPSI bekerja sama untuk menyalurkan daging ayam ke delapan pasar dari 173 pasar tradisional se-Jakarta. Masing-masing pasar mendapatkan jatah 200-300 ratus ekor daging ayam beku. 

Kedelapan pasar itu, yaitu Pasar Senen, Pasar Blok A, Pasar Rawamangun, Pasar Kojabaru, Pasar Pondok Labu, Pasar Kebayoran Lama, Pasar Grogol, dan Pasar Minggu.

Meski demikian, menurut Sekjen APPSI, Ngadiran, pendistribusian daging ayam beku ini tidak berdampak signifikan terhadap harga daging ayam di pasar.

"Bagaimana mau menurunkan harga daging ayam, kalau hanya delapan pasar yang dijadikan lokasi pendistribusian daging ayam. Lagipula, satu pasar hanya mendapatkan jatah satu kali. Itu sama saja menggarami lautan," ujarnya. 

Sedangkan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Sri Agustina menyatakan bahwa langkah kerja sama Kementerian Perdagangan dan APPSI tersebut bisa menekan harga jual daging ayam. "Kami berharap, dari 150-an pasar tradisional yang ada di Indonesia, delapan di antaranya bisa menjadi motor untuk menjadi pasar yang menjual daging ayam beku," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengaku pusing dengan melonjaknya harga komoditas pangan. Bahkan, dirinya berjanji akan mendatangkan atau mengimpor beberapa komoditas pangan dari luar negeri pada pekan ini. Hal itu dilakukan untuk menekan harga.

"Minggu ini akan datang cabai, bawang merah, dan daging," ujar Menteri yang belakangan ini juga sedang sibuk mempersiapkan diri untuk maju dalam Konvensi Partai Demokrat tersebut.

Untuk daging, minggu ini, Perum Bulog berencana untuk memasukkan 500 ton daging beku ke Indonesia. Bulog akhirnya mendapatkan restu impor daging setelah membuktikan, mereka memiliki lemari pendingin sebagai syarat utama importir daging yang hendak mengimpor komoditas pangan ini.

Khusus cabai dan bawang merah, Gita mengatakan bahwa sekitar empat ribu ton lebih cabai akan didatangkan dari luar. Hal tu, karena produksi dalam negeri turun, karena gagal panen yang disebabkan kemarau basah. Sementara itu, bawang merah juga akan didatangkan. "Kami akan mendatangkan sebagian dari 16 ribu ton yang direncanakan," ungkapnya.

Impor komoditas pangan ini bertujuan untuk mengantisipasi cuaca yang tidak menentu. Adanya anomali cuaca ini akan berpengaruh pada waktu panen beberapa komoditas pangan, terutama cabe dan bawang merah. "Kami mendatangkan (cabai dan bawang merah) dari luar untuk sementara," jelasnya.

Darso (45), pedagang di pasar Induk Kramat Jati, saat berbincang dengan wartawan mengaku bahwa harga beberapa komoditas saat ini seperti bawang merah dan cabai rawit merah masih cukup tinggi. Namun, harga dapat turun kembali setelah pasokan datang (diimpor). 

Misalnya, bawang merah yang dipasok dari Brebes, dibanderol Rp60 ribu per kilogram. Harga ini dapat ditekan, karena bawang impor telah masuk. "Kalau tidak ada impor, bisa Rp100 ribu, normalnya bawang merah Rp32 ribu per kilogram," tambahnya.

Adapun harga cabai, di Pasar Induk Kramat Jati, harga cabai rawit merah di kisaran Rp70.000-80.000 per kilogram, cabai kriting dibanderol Rp28.000 per kilogram, dan cabai rawit hijau Rp22.000 per kilogram.

Ada kartel?
Sementara itu,  Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menurunkan tim pengawas kartel pangan untuk meneliti dan menyelidiki adanya dugaan kartel di balik kenaikan harga pangan yang terjadi akhir-akhir ini seperti daging ayam ras, telur, bawang merah, dan cabai rawit. 

KPPU dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, memahami bahwa harga komoditas akan naik ketika permintaan lebih tinggi daripada ketersediaan. Namun saat ini, ketersediaan pangan dinyatakan cukup. 

Untuk itu, komisi ini menilai tidak wajar apabila harga pangan melambung hingga 63 persen.

Penilaian ini berdasarkan pada beberapa komoditas pangan yang harganya mencapai di atas lima persen dibandingkan harga pada Juni lalu. Bahan pokok pangan itu adalah cabai rawit yang naik sebesar 63 persen, harga bawang merah 49 persen, harga daging ayam ras merangkak naik 19,5 persen, dan telur ayam ras naik sebesar 9,41 persen, sedangkan harga daging sapi naik hingga 41 persen.

"Di tengah penjelasan pemerintah yang menyatakan bahwa ketersediaan komoditas pokok ini mencukupi, jadi wajar jika kami mencurigai ada tindakan kartel di balik kenaikan harga," kata Wakil Ketua KPPU, Saidah Sakwan.

Kini, KPPU tengah menyelidiki dugaan kartel dari kenaikan harga daging sapi yang pernah naik hingga 50 persen pada awal tahun ini. Kenaikan harga daging sapi yang tidak lebih rendah pada masa Puasa seperti sekarang, turut pula menjadi bagian dari penyelidikan ini. Hal serupa dilakukan oleh KPPU terhadap komoditas pangan lainnya.

Perilaku kartel dengan menahan atau menimbun barang ini akan menjadi perhatian dan kewaspadaan KPPU. Khususnya, di saat Ramadan  dan menjelang Lebaran nanti, saat tingkat permintaan masyarakat sangat tinggi.

Selain itu, lembaga negara ini memperingatkan para pelaku usaha agar tidak berspekulasi dengan mencoba-coba melakukan kartel ini. "Kami akan bertindak dan menjatuhkan sanksi  jika dari hasil penyelidikan ternyata terbukti bahwa kenaikan harga terjadi karena perilaku kartel," lanjut dia.

Selanjutnya, terkait kebijakan penyediaan suplai oleh pemerintah, khususnya untuk komoditas pangan yang bergantung pada impor, KPPU menekankan pentingnya pengawasan atas realisasi impor ini. Apalagi, setelah mencermati proses penyelidikan yang sedang berjalan dari masalah daging sapi yang menyangkut kebijakan impor.

"KPPU memandang penting untuk mengingatkan pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian untuk mengawasi realisasi impor komoditas yang telah disetujui SPI (surat perizinan impor) dan RPP (rencana peraturan pemerintah)-nya agar sesuai dengan time frame yang telah ditetapkan," kata Saidah.

Dia juga mengkhawatirkan kestabilan ketersediaan pasokan di pasar selama enam bulan ke depan akan terganggu, apabila realisasi impor tidak sesuai time fame-nya. 

Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian menggunakan kebijakan yang spekulatif dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan nasional. 

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pemberdayaan Daerah dan Bulog, Natsir Mansyur, dalam keterangan tertulisnya menjelaskan bahwa kenyataan ini terlihat dari harga pangan yang tetap tinggi serta kebutuhan pangan nasional tidak seimbang dengan suplainya. "Supplaykecil, demand-nya banyak. Sehingga rentan dengan aksi spekulatif," ujarnya.

Menurut Natsir, persoalan yang paling mendasar seperti persoalan produksi, distribusi, dan perdagangan masih tidak bisa ditangani dan diatur dengan baik Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. Padahal, seharusnya kedua instansi itu sudah tahu persoalan ini merupakan persoalan dasar.

Masalah itu, kata dia, selalu berkutat pada komoditas gula, daging sapi, daging ayam, bawang putih, kedelai, cabe, produk holtikultura. Namun, pemerintah masih saja mengeluarkan kebijakan spekulatif sehingga harga tetap tinggi dan pangannya langka.

Menurut Natsir, kedua menteri itu tidak memahami politik pangan suatu negara yang begitu penting. Ditambah lagi, manajemen logistik pangan negara ini tidak berpihak kepada rakyat, sehingga kebijakan pangan nasional masih saja carut marut. "Wajar kalau presiden murka terhadap mereka atas kekacauan ini," kata Natsir.

Seharusnya, dia melanjutkan, DPR bisa memberikan sanksi kepada kedua Kementerian dengan mengurangi anggarannya, karena tidak bisa mengendalikan produksi-distribusi-perdagangan pangan nasional. 

Akibatnya, ini amat berdampak kepada rakyat dengan menghadapi kurangnya pasokan, kelangkaan, dan harga kebutuhan tinggi.

Kebijakan pangan nasional ke depan, Natsir menambahkan, seyogyanya diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai pihak yang lebih tahu situasi plus-minus kebutuhan pangan di daerahnya. 

Penanganan pangan ini, menurut Natsir, sudah terlalu sentralistik oleh kedua kementerian itu sehingga keluhan rakyat terhadap pangan ini membawa dampak buruk pada citra pemimpin tertinggi di negara ini.

Posting Komentar

 
Dipublikasikan oleh : CV. BANIO SAKTI Portal Web Merdekapost.net | Berani, Agresif, Aspiratif
Copyright © 2011. |Merdekapost.net |MERDEKAPOST.NET - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Merdekapost.net