Headlines News :

Siapakah Beking Perbudakan di Tangerang ??

MerdekaPost | Selasa, 07 Mei 2013

Para buruh disekap.Siapa aparat polisi dan TNI yang diduga jadi beking

Merdekapost.com - Perbudakan. Itu perlakukan dari masa lalu. Tapi hari-hari ini kita menemukannya di Tangerang, yang tak begitu jauh dari Jakarta. Puluhan orang diperlakukan sebagai budak pada sebuah perusahaan yang mengolah limbah menjadi wajan. Lama diperlakukan secara tak manusiawi tubuh mereka ringkih. Ada buruh yang tangannya dirubung luka sundutan rokok. Ulah si majikan wajan ini aman berbulan-bulan lantaran dibekingi dua orang aparat.
Ihwal beking aparat itu disampaikan Polda Metro Jaya, Senin 6 Mei 2013. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, mengungkapkan bahwa aparat yang membekingi itu adalah teman dari tersangka Yuki Irawan, 41 tahun, sang pemilik pabrik wajan itu. "Memang ada dua orang, satu anggota kepolisian, satu lagi anggota TNI. Inisialnya HS dan S. Mereka adalah teman dari tersangka. Sebelum menjadi aparat mereka sudah berteman, setelah menjadi aparat pertemanannya bertambah akrab, dan memang mereka warga situ juga," kata Rikwanto, Senin 6 Mei 2013.

Anggota polisi dan TNI itu, lanjutnya, rutin mengunjungi Yuki. Sebulan atau setengah bulan sekali untuk sekadar mengobrol. Setiap datang berkunjung, keduanya selalu dikasih uang bensin oleh tersangka. Rikwanto menambahkan bahwa ada kemungkinan dua orang ini dimanfaatkan oleh tersangka Yuki untuk menunjukkan kepada buruhnya bahwa dia punya teman.

Tapi dia menambahkan bahwa, "Kalau buruh menilai bahwa YI punya beking aparat, itu boleh-boleh saja. Untuk memastikan hal itu, kami akan panggil dua-duanya. Pekan ini mereka diperiksa."

Polisi memang bergerak cepat menyelidiki kasus ini. Selain memanggil dua anggota polisi dan TNI itu,  polisi sudah menetapkan Yuki Irawan,  sebagai tersangka. Selain dia, yang juga ditetapkan sebagai tersangka adalah sejumlah mandor. Mereka diduga menganiaya para buruh itu. Para mandor itu antara lain Sudirman (34), Nurdin (34), Jaya alias Mandor (41), dan Tedi Sukarno (34).

Ada pula pelaku yang buron. "Ada lima tersangka yang sudah kami tangkap. Dua orang lagi masuk daftar pencarian orang (DPO) dan kami tengah mengejar," kata Kapolres Tangerang Komisaris Besar Polisi Bambang Priyo Agodo dalam perbincangan dengan tvOne, Sabtu malam, 4 Mei 2013.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kabupaten Tangerang, Komisaris Shinto Silitonga, mengatakan, para tersangka diperiksa penyidik untuk pengembangan lebih lanjut. Polisi sudah melakukan rekonstruksi. Tempatnya di halaman Polres, pada Sabtu 4 Mei 2013 lalu."Ada 83 adegan. Kegiatan ini didampingi penasihat hukum yang ditunjuk oleh penyidik. Berdasarkan hasil rekonstruksi, diketahui bahwa pemukulan dilakukan sejak awal mereka bekerja di pabrik itu," kata Shinto kepada VIVAnews, Sabtu 4 Mei 2013.

Para tersangka ini, lanjut Shinto mempunyai peran yang berbeda-beda. Tersangka Yuki Irawan telah menampar, memukul, dan mendorong kepala dengan sadis 13 buruh. Tersangka Tedi Sukarno, 35, lebih sadis lagi. Dia memukul, menampar, menendang, menyundutkan rokok, dan menyiram air panas terhadap 16 buruh.

Kemudian tersangka Sudirman alias Dirman (34 tahun), menampar, memukul kepala dari belakang terhadap 4 buruh. Serta tersangka Nurdin alias Umar (25 tahun), memukul, menampar, dan memukul kepala lima orang buruh.

Kini kelima tersangka sekaligus barang bukti dan para korban masih diperiksa intensif di Polresta Tangerang. Kelima tersangka diancam Pasal 333 KUHP tentang merampas kemerdekaan orang lain dan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman delapan tahun penjara.

Ihwal Terbongkar

Praktik perbudakan di pabrik kuali di Kampung Bayur Opak RT 03/06, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan Timur, Tangerang, ini terkuak setelah dua buruh yang bekerja di pabrik itu berhasil melarikan diri beberapa hari lalu. Andi Gunawan (20) dan Junaidi (22) kabur setelah 3 bulan dipekerjakan dengan tidak layak.

Tiba di daerah asalnya, Lampung Utara, Andi dan Junaidi melapor ke polisi setempat pada 28 April 2013. "Berdasarkan hasil koordinasi dengan Polda Metro-Polda Lampung-Polresta Tangerang, maka kami lakukan pengecekan lapangan ke TKP tadi," ujar Shinto kepada VIVAnews, Jumat 3 Mei 2013.

Jumat siang, 3 Mei 2013, polisi  menggerebek pabrik olahan limbah itu. Di sana, mereka mendapatkan tempat usaha yang tidak memiliki izin. Yang ada hanya sebuah surat keterangan usaha dari Kecamatan Cikupa.

Polisi, Komisi Nasional untuk Hak Asasi Manusia serta aktivis lembaga swadaya masyarakat Kontras melihat kondisi tempat kerja yang menyedihkan. Tempat istirahat buruh hanya berukuran 8x6 meter, hanya beralaskan tikar dan gelap. Kamar ini dihuni puluhan pekerja.  Kondisi udara juga terasa lembap, sesak, dan gelap. Sementara itu, untuk kamar mandi terlihat jorok dan tidak terawat.

"Kami menemukan tempat istirahat karyawan berukuran 8x6 meter, yang sangat tidak layak untuk diisi 46 orang dan hanya beralaskan tikar," kata Komisaris Shinto.

“Kami mandi jarang, kalau mandi juga pakai sabun krim cuci piring (sabun colek). Kerjanya nggak enak, kayak budak. Saya dikasari, dipukul, tidak dikasih makan. Saya tidak akan kerja di sana lagi," kata Andi, pekerja yang berhasil melarikan diri ke Lampung, saat diwawancara di kampung halamannya di Desa Blambangan, Blambangan Pagar, Lampung Utara, Minggu 5 Mei 2013.

Kondisi Andi sangat lemah dan tampak tirus. Pada kepalanya yang rambutnya telah dipangkas habis, terlihat sebuah luka bekas pukulan benda tumpul. Wajahnya tampak lebam dan bibirnya terlihat bengkak biru kehitaman. Ia mengaku trauma atas kejadian tersebut.

Ia juga bercerita saat penggerebekan, ia diajak polisi ke pabrik tempatnya disekap. “Namun, saya tidak berani lagi ke sana, saya trauma sama tempat itu,” katanya kepada wartawan.

Sambil sesekali menyeka air mata, ia mengatakan, kegeramannya kepada pemilik pabrik yang telah memperlakukan mereka seperti bukan manusia selama bekerja. Ia mengungkapkan, saat bekerja di pabrik tersebut, kondisinya bersama pekerja lainnya sangat mengenaskan.

“Kami sering disiksa oleh pemilik dan anak buahnya. Kami ditempatkan di satu ruangan bersama, sempit-sempitan, seperti di penjara. Kalau kerja seperti budak, tidak boleh bersosialisasi dengan warga sekitar,” katanya dengan mata nanar. Kekerasan-kekerasan yang dialami antara lain luka bakar akibat sundutan api rokok, siraman bahan kimia, hingga penyakit kulit. “Badan saya melepuh di kaki kanan dan kiri, serta lengan kiri,” ujarnya.

Menurut pengakuan para pelapor, saat bekerja, barang pribadi mereka seperti handphone, dompet, uang, dan pakaian yang dibawa buruh ketika awal bekerja disita oleh pemilik usaha. Karyawan tidak diperbolehkan keluar pabrik dan berkomunikasi dengan orang luar.

Setiap buruh  harus menyelesaikan 200 wajan setiap bulannya.  Bila tidak, siksaan dari mandor dan bos Yuli Irawan pun mendera para buruh. "Saya sering disiksa, dipukul, kepala saya dijedukin, kalau saya tidak mencapai target 200 wajan," kata Rahmat Nugraha, salah satu buruh asal Cianjur, Jawa Barat.

Syaifulah, salah satu karyawan menjelaskan, karyawan hanya digaji Rp600 ribu, itu pun diberikan kadang-kadang. Selain itu, ada beberapa karyawan di bawah umur yang dipekerjakan. Saat penggerebekan, polisi menemukan empat buruh yang masih berstatus anak-anak. Polisi lalu membawa 25 buruh, 5 mandor, pengusaha Yuki Irawan dan istrinya ke polres untuk diminta keterangan.

Para buruh kemudian dipulangkan sejak Sabtu malam kemarin. Pemulangan dibagi ke dalam dua gelombang. Pada pukul 20.00 WIB beberapa buruh yang penuh luka itu dipulangkan ke Lampung Utara dan Cianjur dengan satu bus dan satu lagi kendaraan pribadi.

Kelalaian Siapa?

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menilai praktik perbudakan buruh di Tangerang adalah wujud kelalaian pemerintah. Pemerintah Daerah seharusnya bisa mengawasi lingkungan sekitarnya.

Ketua Komnas, Siti Nurlaila, mengatakan pemilik pabrik telah melanggar hak asasi manusia yang meliputi hak atas kesejahteraan, hak terbebas dari penganiayaan, dan hak terbebas dari perbudakan. Di pabrik ini, 34 buruh diperlakukan secara tidak manusiawi.

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengaku kesulitan mengawasi aktivitas pabrik ini. Sebab, tempat pabrik wajan itu tersembunyi dan aktivitasnya sengaja disamarkan. "Artinya, memang unsur kriminalnya sangat tebal," kata Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan (PPK) Kemenakertrans, Muji Handaya, Minggu 5 Mei 2013.

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigasi berjanji akan mengawal proses hukum terhadap para tersangka penyekapan buruh di Tangerang. Para tersangka itu akan dikenakan pasal berlapis, mulai dari pelanggaran undang-undang (UU) pidana umum, UU Ketenakerjaan, hingga UU Perlindungan Anak.

Para tersangka penyekapan buruh harus dihukum berat secara pidana agar memberi efek jera dan pembelajaran bagi pengusaha lain. Para pengusaha yang mempekerjaan para buruh wajib mentaati aturan ketenagakerjaan dan memperlakukan para pekerja dengan layak.

"Setelah selesai menangani para buruh yang disekap hingga sampai pemulangan, kami terus berkoordinasi dengan Kepolisian. Kami fokuskan dalam penuntutan secara pidana terhadap pelanggaran aturan ketenagakerjaan," kata Muji.

Wakil Ketua Umum  Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Tenaga Kerja, Benny Soetrisno, menyesalkan praktik perbudakan terhadap buruh pabrik wajan itu. Menurut Benny, pengawasan harus ditingkatkan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait, tak terkecuali masyarakat. Pemerintah diminta memperhatikan agar kasus serupa tidak terulang lagi.

Menurut dia, aparat hukum harus bertindak tegas dengan menjatuhkan sanksi kepada pengusaha "nakal" yang melakukan praktik-praktik perbudakan dan memperlakukan pekerjanya secara tidak manusiawi. "Ditindak tegas dengan hukuman yang setimpal sesuai undang-undang yang berlaku, dan kami benar-benar mengutuk tindakan tak manusiawi seperti itu," kata Benny.

Sementara Kapolres Kabupaten Tangerang, Komisaris Besar Bambang Priyo Andogo, mengimbau masyarakat yang mengetahui adanya tindakan serupa agar segera melaporkan kepada pihak kepolisian untuk diproses lebih lanjut. "Kami menyayangkan adanya perlakuan pengusaha yang tidak memanusiakan buruhnya, dan hal ini merupakan tindak pidana, sehingga harus dilakukan tindakan tegas," kata Bambang.


Posting Komentar

 
Dipublikasikan oleh : CV. BANIO SAKTI Portal Web Merdekapost.net | Berani, Agresif, Aspiratif
Copyright © 2011. |Merdekapost.net |MERDEKAPOST.NET - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Merdekapost.net