Headlines News :

3 Polwan Cantik Bicara Suka Duka Menjadi Polisi

MerdekaPost | Rabu, 21 November 2012

Jakarta - Sejak kemunculan para polisi wanita (polwan) berparas cantik di berbagai media, profesi ini pun lantas menjadi perbincangan. Banyak orang yang ingin tahu seperti apa kerja seorang polwan. Apakah sama dengan polisi pria?

Ada pula yang berpendapat bahwa polwan hanya ditempatkan di kantor dan di belakang meja. Atau jika turun ke lapangan, sebagai pengatur lalu lintas. Tapi nyatanya tak sesederhana itu. Polwan juga seringkali dihadapkan pada tugas-tugas yang berat bahkan menantang. Mulai dari mengawal terduga teroris sampai menangani kasus kriminal. Seperti apa suka duka menjalani profesi ini? Tiga polisi wanita ini bersedia berbagi ceritanya kepada wolipop.

"Sukanya sih kalau saya banyak pengalaman. Misalkan di mana saja tempat kita berdinas itu pasti pengalamannya beda-beda," ungkap Brigadir Polisi Satu (Briptu) Eka Frestya saat wolipop mengunjungi kantornya di National Traffic Management Center (NTMC), Pancoran, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Senada dengan Eka, Inspektur Polisi Satu Eny Kuswidiyanti Regama yang ditemui di tempat yang sama juga menyatakan, menjadi polwan memberinya banyak pengalaman. Dari segi gender, baik polisi wanita maupun pria diberikan kesempatan sama besar untuk mengembangkan diri.

"Peluangnya juga untuk para wanita diberikan kesempatan yang luas," jelas wanita yang sudah 21 tahun bekerja di kepolisian ini.

Sukanya menjadi polwan, sedikit berbeda bagi Inspektur Polisi Dua Tika Pusvitasari. Menurut wanita yang menjabat sebagai kepala Sub Unit Kriminal Satreskrim Polres Jakarta Pusat ini, kebahagiaan saat menjadi polwan adalah ketika dirinya berhasil mengungkap sebuah kasus.

"Saat kita menerima laporan masyarakat tentang suatu kejadian. Kita melakukan penyidikan sehingga sebuah perkara menemui titik terang. Senangnya seperti itu. Tertarik, penasaran, pada saat terungkap jadi senang," tutur Tika ketika dihubungi wolipop.

Di sisi lain, menjadi polwan pun tak lepas dari kendala. Namun mereka melihat itu sebagai konsekeunsi yang harus diambil dengan menjadi pelayan masyarakat. Misalnya saja, seorang polisi harus tetap bertugas ketika semua orang merayakan hari raya bersama keluarganya.

"Dukanya kita harus berdamai dengan hati. Mungkin pada saat misalnya Lebaran kita tidak bisa berkumpul dengan keluarga," ucap Eka, yang kerap menjadi presenter NTMC di salah satu saluran televisi swasta untuk melaporkan keadaan lalu lintas Jakarta.

Namun dia melihat konsekuensi itu tidak hanya dialami polisi saja. Banyak pula profesi lain yang harus merelakan tak kumpul dengan keluarga di momen-momen spesial karena dedikasinya terhadap pekerjaan.

Sementara itu bagi Tika, kendala yang kerap dialami adalah ketika dia harus berhadapan langsung dengan masyarakat. Misalnya saat mengamankan unjuk rasa. Wanita berusia 22 tahun ini harus siap menghadapi reaksi masyarakat yang berbeda-beda.

"Ada yang langsung emosi, marah-marah, lempar-lempar. Kita harus bisa menahan emosi. Nggak boleh ikut emosi, harus tetap senyum," terangnya.

"Dukanya memang lebih sedikit sama keluarga. Tapi mungkin karena memang sudah biasa ya," ujar Eny menambahkan.

Tapi wanita berambut pendek ini menegaskan, dirinya tak memandang kendala itu sebagai beban. Karena jika segala sesuatu dikerjakan dengan ikhlas, semuanya akan berjalan dengan lancar.


(choe)


Posting Komentar

 
Dipublikasikan oleh : CV. BANIO SAKTI Portal Web Merdekapost.net | Berani, Agresif, Aspiratif
Copyright © 2011. |Merdekapost.net |MERDEKAPOST.NET - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Merdekapost.net