Headlines News :

Gubernur HBA Islamkan Suku Talang Mamak (SAD)

MerdekaPost | Sabtu, 13 Oktober 2012

Gubernur HBA, Bupati Tebo, Kapolres Tebo dan Ketua GP Ansor
Tebo saat acara pengislaman warga Suku Talang Mamak

Menyebut Talang Mamak, maka yang ada dalam benak kita adalah Riau. Itu sama halnya ketika kita membicarakan Suku Kubu, pasti ingatan kita melayang ke Jambi. Secara fisik dan budaya, kedua suku terasing ini nyaris tidak ada benda. Hidup nomaden dalam belantara hutan dan tanpa agama. Yang mengikat aturan hidupnya adalah budaya yang diwariskan nenek moyangnya...

Dan ternyata, nun jauh di bawah kaki pegunungan Taman Nasional Bukit Tigapuluh Kabupaten Tebo Provinsi Jambi, juga terdapat puluhan kepala keluarga Suku Talang Mamak. Dapat dipastikan, sejak puluhan tahun silam, mereka telah bermigrasi dari Riau ke Tebo lantaran jaraknya tidak terlalu jauh. Tujuannya tidak lain, mencari kehidupan baru akibat minimnya hutan di Riau yang telah habis dijadikan perkebunan sawit.
Di Desa Samarantihan Tebo, ternyata kehidupan mereka tidak lebih baik. Di sini mereka juga mulai terdesak oleh perusahaan swasta yang memperoleh konsensi lahan puluhan ribu hektar. Nasib mereka tidak ada benda dengan Suku Kubu yang ada di Tebo. Walau Talang Mamak di Samarantihan tidak lagi nomaden, tetapi sangat jauh dari perhatian pemerintah seperti desa-desa lainnya.
“Kondisi kesehatan mereka amat memperihatinkan,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tebo Jauhari Rahman yang sengaja mengunjungi desa terpencil tersebut belum lama ini. “Di sini manusia hidup seperti hewan, dan sebaliknya hewan langka seperti orang utan diperlakukan sangat istimewa oleh pemerintah,” timpal Ansori, Ketua GP Ansor Tebo yang mempelopori kunjungan tersebut.
Maka, atas nama kemanusiaan, GP Ansor Tebo segera merespon keinginan warga Talang Mamak untuk dipertemukan dengan Bupati Tebo Sukandar. Tidak sampai di situ, keinginan terpendam Talang Mamak untuk memeluk agama Islam juga dipenuhi GP Ansor Tebo. Puncaknya, Sabtu 13 Oktober kemarin, puluhan warga Talang Mamak tersebut langsung di-Islam-kan setelah beberapa hari sebelumnya dilakukan kittan atau sunat massal oleh Dinas Kesehatan Tebo.
Prosesi ini langsung disaksikan Gubernur Jambi H Hasan Basri Agus (HBA) seusai menghadiri acara Ulang Tahun Tebo ke-13. Kegiatan ini dipusatkan di Kecamatan Sumay dan disaksikan dengan rasa haru oleh ratusan masyarakat setempat.
Sesungguhnya, ini hanyalah secuil bentuk perhatian nyata terhadap kelompok masyarakat adat yang merupakan salah satu elemen besar dalam struktur negara yang berbangsa seperti Indonesia. Sebab, dalam kenyataannya, eksistensi komoditas masyarakat adat selama ini belum terakomodasikan. Bahkan secara sistematis, mereka disingkirkan dalam proses dan agenda politik nasional.
Apa yang dilakukan GP Ansor Tebo kiranya perlu ditindaklanjuti oleh pemerintah dengan memberikan perhatian serius terhadap mereka. Tidak hanya soal kepastian perolehan hak atas tanah dan permukiman, juga sanitasi kehidupan yang layak. Sungguh sangat ironis, bila nyawa orang utan di pusat penangkaran Bukit Tigapuluh jauh lebih berharga dibanding Suku Talang Mamak dan Suku Kubu. 
(ditulis oleh M. Chudori, Mantan wartawan Gatra, pemerhati kebijakan publik Provinsi Jambi)

Posting Komentar

 
Dipublikasikan oleh : CV. BANIO SAKTI Portal Web Merdekapost.net | Berani, Agresif, Aspiratif
Copyright © 2011. |Merdekapost.net |MERDEKAPOST.NET - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Merdekapost.net