Headlines News :

Addion Nizori, Penerima Beasiswa di Australia yang Harus “Ngamen”

MerdekaPost | Rabu, 24 Oktober 2012

Addion Nizori sedang melakukan penelitian dilaboratorium RMIT Australia
JAMBI – Polemik mengenai penerima beasiswa Dinas Pendidikan Provinsi Jambi terus berlarut. Salah satu penerima beasiswa dari Australia, Addion Nizori, menyampaikan keluh kesahnya atas dampak pemberitaan yang muncul.

Addion Nizori adalah staf pengajar Teknologi Hasil Pertanian Universitas Jambi (Unja) yang saat ini sedang kuliah di Royal Melbourne Institute Technology (RMIT) dalam bidang Food Science (untuk S1 dan S2 disebut dengan Food Science and Technology). Lama belajar Addion di RMIT adalah 4 tahun.

“Sementara beasiswa Dikti yang saya terima dari tahun 2009 - 2011 atau 3 tahun, berarti untuk tahun 2012, saya sudah memenuhi syarat untuk meminta bantuan tambahan beasiswa untuk satu tahun terakhir perkuliahan saya. Saya berusaha mencari beasiswa sebagai penghasilan tambahan untuk menutupi kekurangan biaya studi saya dengan berbagai cara seperti mengajar tidak tetap (casual), asisten Lab mahasiswa S1 dan S2 di RMIT,” cerita Addion.

Untuk mendapatkan posisi casual staff di RMIT University, Addion mengaku harus belajar dan pergi ke labor siang malam untuk membuktikan ke profesor/supervisor. “Bahwa kita kompeten sambil kuliah harus ngamen juga, istilah ngajar di luar tugas pokok kuliah meneliti. Tapi itu masih tidak mencukupi kebutuhan SPP dan biaya hidup saya di Australia,” ujarnya.

Untuk SPP saja, Addion menyatakan harus membayar hampir AUD 29,760 atau Rp 300 juta per tahun. Sementara, biaya hidup per bulan bersama keluarga dengan 2 orang anak sekitar AUD 2 - 3 ribu atau Rp 20 juta – Rp 30 juta.

“Dan ketika ada niat baik baik dari Bapak HBA untuk memajukan warga Jambi dengan program beasiswanya dan dengan tegas beliau bilang akan transparan melalui serangkaian tes bahan dan wawancara bagi mahasiswa dalam dan luar negeri, makanya saya tertarik mencoba juga untuk ikut tes beasiswa ini,” cerita Addion.

Addion menyatakan sangat bersyukur dirinya ditetapkan sebagai salah satu penerima bantuan insidentil. “Yang saya terima bukan beasiswa program ganda seperti yang diberitakan di media. Itu bukan beasiswa ganda dan hanya bantuan insidentil. Kalau bahasa kitonya uang kos untuk satu bulan hidup di Australia. Kalau di luar negeri istilahnya popular top up scholarship yaitu beasiswa/bantuan tambahan bagi mahasiswa berprestasi utama dalam studinya dibuktikan dengan KHS dan progress report yang excellence atau memuaskan. Contohnya adalah beasiswa tambahan dari lembaga penelitian Australia untuk mahasiswa doktor yang berprestasi tinggi,” jelasnya.

Ia mengatakan sangat mensyukuri bantuan insidentil yang pertama kali diterimanya semenjak program S3 dirinya dimulai yang diberikan sesuai dengan kemampuan keuangan daerah Jambi, apalagi untuk panyak calon penerima. “Bisa dibandingkan dengan jumlah penerima tahun-tahun sebelumnya, berapa jumlah peserta yang diterima, dan jumlah uang yang didapat. Dan apakah ada transparansi tes bahan, interview terutama untuk peserta dari luar negeri.

Bagaimana proses seleksi yang mereka pakai sekarang dengan serangkaian tes yang menurut saya sangat detail dan akurat terutama untuk materi wawancara luar negeri dengan Skype face to face. Mengingatkan saya tes beasiswa bergengsi ke Australian Development Scholarship (ADS) beberapa tahun lalu. Saya juga lulusan penerima beasiswa ADS 2002 dan 2004, pola tes dan interviewnya sangat mirip dan sangat berkualitas,” urai Addion. (her)

Posting Komentar

 
Dipublikasikan oleh : CV. BANIO SAKTI Portal Web Merdekapost.net | Berani, Agresif, Aspiratif
Copyright © 2011. |Merdekapost.net |MERDEKAPOST.NET - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Merdekapost.net