Headlines News :

Empat Oknum Polisi Pembunuh Tahanan Divonis Berbeda

MerdekaPost | Jumat, 15 Juni 2012

Keluarga Korban Tolak Vonis Hakim

Dikawal Ketat Aparat : Sidang vonis Tabroni dan Ass'ad
saat berlangsung di Pengadilan Negeri Sungaipenuh
KERINCI, MPOnline – Sidang putusan terhadap empat oknum polisi di Pengadilan Negeri Sungaipenuh, Rabu (13/6), mendapat pengawalan ketat pihak kepolisian resort Kerinci dan ditambah dengan personil dari Polsek Sungaipenuh. 

Persidangan ini terkait aksi penganiayaan oleh keempat oknum polisi yang berujung maut terhadap Neka Saputra, warga Desa Siulak Mukai, Kecamatan Sulak, yang akhirnya tewas secara mengenaskan, setelah mendapatkan perawatan beberapa jam di RS Mayjen HA Thalib Sungaipenuh, Jumat (21/10/2011). 

Neka sendiri ketika itu merupakan tahanan di Polsek Sungaipenuh Dalam sidang tersebut, diputuskan keempat oknum polisi tersebut terbukti bersalah dan mereka akhirnya dijatuhi dengan hukuman yang berbeda-beda.  Sidang yang dipimpin hakim ketua, Dalyusra ini berlangsung dengan tiga kali masa persidangan karena berkas terdakwa yang berbeda-beda. 

Sidang putusan terhadap Asa’ad dan Tabroni digelar oleh Pengadilan Negeri Sungaipenuh dengan hakim anggota, Yoga Mahardika dan Andi Wiliam Permata.  Dalam sidang tersebut majelis hakim menjatuhkan vonis selama 4 tahun penjara untuk Asa’ad dan Tabroni. Sedangkan sidang dengan terdakwa Muslikan, hakim anggotanya adalah Yoga Pratama dan Cristoffel Harianja. Majelis hakim akhirnya menjatuhkan vonis selama 4 tahun 6 bulan dalam persidangan ini.

Usai persidangan tersebut, mejelis hakim kembali menggelar sidang untuk terdakwa Dober yang juga anggota Polres Kerinci, sektor Sungaipenuh. Namun, ketua majelis hakim melakukan skor hingga pukul 13.30 WIB. Persidangan ditunda untuk memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk mengajukan surat permohonan maaf yang telah diterima keluarga Neka Pratama. 

“Surat ini belum bisa kami terima, karena belum dileges oleh pihak Pengadilan Negeri Sungaipenuh. Jadi kami memberikan kesempatan kepada terdakwa memenuhi ketentuan persidangan, dan sidang diskor hingga pukul 13.30 WIB,” ungkap Dalyusra. 

Setelah diskor, sidang kembali digelar dengan terdakwa Dober. Pada putusan akhir persidangan, majelis Hakim menjatuhkan vonis kepada Dober selama 3 tahun penjara.

Sementara itu, salah seorang penesehat hukum terdakwa, Viktorianus Gulo, usai persidangan mengaku akan pikir-pikir dulu untuk melakukan banding. “Sementara kita pikir-pikir dulu. Kita juga masih akan berkoordinasi dulu dengan klien kita,” ujar Viktor.  Pantauan di lapangan, persidangan berjalan dengan lancar dan dikawal penuh oleh pihak keamanan dari Mapolres dan Polsek Sungaipenuh. Bahkan untuk pengamanan tersebut, Kapolres Kerinci, AKBP Ismail dan perwira pada Polres Kerinci juga ikut melakukan pengamanan. Sidang yang dimulai sekitar pukul 09.30 WIB dan berakhir sekitar pukul 14.30 WIB. 

Keluarga Korban 'Neka' Tolak Vonis Hakim 

Sementara itu, saat vonis 4 oknum polisi penyebab kematian Neka Pratama, warga Kecamatan Siulak, Kabupaten Kerinci, mengaku tidak puas kepada terdakwa oleh mejelis hakim Pengadilan Negeri Sungaipenuh. Sarket (35), paman Neka Pratama, menyatakan vonis yang dijatuhkan kepada terdakwa yang menyebabkan hilangnya nyawa keponakannya terlalu rendah. Berkaitan dengan vonis tersebut, pihaknya bakal mengajukan dan melaporkan kepada penegak hukum yang lebih tinggi. “Kita ajukan kepada mahkamah yang lebih tinggi,” ungkap Sarket.

“Selain akan mengajukan ke pihak hukum yang lebih tinggi, kami juga akan ajukan untuk pemecatan kepada  terdakwa. Ini karena telah menghilangkan nyawa keponakan saya,” ujarnya. Pihaknya juga sangat menyayangkan banyaknya fakta dalam persidangan yang tidak diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Bahkan, keterangan beberapa saksi di persidangan juga banyak yang mengarah kepada pelaku-pelaku lain. “Pengakuan beberapa saksi termasuk Muslikan, bahwa tidak hanya mereka saja yang melakukan pemukulan terhadap Neka Pratama saat diproses di Mapolsek Sungaipenuh,” ungkap Sarket.

Untuk itu, demi keadilan, pihaknya meminta kepada penegak hukum untuk melakukan proses hukum kepada oknum polisi yang diduga ikut terlibat dalam pemukulan terhadap Neka Pratama, sesuai dengan aturan yang berlaku. “Kami ingin keadilan. Sehingga kami bisa tenang dan bisa menerima kematian keponakan dan keluarga kami ini,” ungkapnya. 

Pernyataan yang sama juga dilontarkan Erlenta (46), bibi dari Neka Ratama. Dia menginginkan putusan yang dikeluarkan Pengadilan Negeri Sungaipenuh setimpal dengan perbuatan yang telah dilakukan. “Jangankan 4 tahun, 5 tahun saja akan kami tolak. Ditambah lagi beberapa oknum polisi yang diduga terlibat dalam pemukulan tidak diproses hukum. Mereka enak-enak saja, kami kehilangan keluarga kami,” ujarnya. (SK)

Posting Komentar

 
Dipublikasikan oleh : CV. BANIO SAKTI Portal Web Merdekapost.net | Berani, Agresif, Aspiratif
Copyright © 2011. |Merdekapost.net |MERDEKAPOST.NET - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Merdekapost.net