Headlines News :

Pemerkosa Anak Kandung di Muara Tabir Belum Ditangkap

MerdekaPost | Selasa, 26 Juli 2011

TOPPAN Nilai Kapolsek Tidak Profesional

MUARA TEBO - Nasib Kembang (15), bukan nama sebenarnya, tak seindah anak perempuan kebanyakan. Perempuan warga dusun Sungai Tiung, Desa Embacang Gedang kecamatan Muara Tabir, kabupaten Tebo ini tinggal menunggu hari kelahiran janin yang dikandungnya.

Naifnya, janin dalam kandungan Kembang merupakan hasil hubungan haram yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri, Nasrun (37) yang kini masih buron kepolisian sector Muara Tabir.

“Benar ada laporan kasus perkosaan pada bulai Mei, tapi itu sudah lama. Kita sudah menjalin kerjasama dengan masyarakat disana. Kalau tersangka Nasrun pulang agar menginformasikannya kepada kita. Kita akan tangkap, ”kata Ipda Zebua, kepala Kepolisian

Sektor Persiapan, Muara Tabir yang dihubungi, Koran ini, Senin (25/7) kemarin.

Menurut Zebua, masyarakat disana akan mengusir tersangka, hanya saja sampai sekarang pihaknya belum mendapatkan informasi dari masyarakat disana. Terhadap pelapor sudah

kita berikan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) kepada pelapor.

Sementara itu, ketua LSM Toppan RI Tebo, Mukhlisin Harahap menuding pihak kepolisian Sektor Muara Tabir bekerja tidak professional dalam menangani kasus perkosaan yang terjadi di dusun Sungai Tiung itu.

Ini terbukti sudah empat bulan sejak sejak laporan korban di polsek , belum menerima STPLnya. Bahkan Harahap menuding ada indikasi tersangka sengaja diminta lari oleh oknum karena kepentingan pribadi.

“Sudah kewajiban polisi, setiap laporan yang diterima harus memberikan STPL. Kasus ini sudah empat bulan berjalan tapi STPLnya tidak ada. Ada indikasi tersangka sengaja diminta lari oleh oknum, ”kata Harahap.

Untuk diketahui bahwa peristiwa pemerkosaan ayah kandung terhadap anaknya ini terjadi sekitar bulan oktober tahun 2010 lalu. Ketika itu, Kembang yang tengah mengasuh adiknya dirumah sekitar jam 10 WIB pagi melihat ayahnya pulang dari menyadap karet. Namun Sang Ayah pagi itu, pulang sendiri tidak bersama ibunya.

“Ayah minta dikerokin, katanya masuk angin. Dalam kesempatan itu, Nasrun langsung mendekap Kembang dari depan yang langsung melucuti pakaiannya. Setelah puas, ayah mengancam akan dibunuh jika mengadukan peristiwa itu kepada ibunya, ”tutur Kembang.

Lama kelamaan, sudah lebih dari sepuluh kali perbuatan Nasrun tersebut dilakukan terhadap anak kandungnya, hingga akhirnya, Kembang hamil. Kehamilan itu akhirnya terbongkar.

Pihak desa juga sudah mengambil langkah, sidang adat dilakukan dengan keputusan memberikan denda adat kepada korban. Dengan membayar satu ekor kerbau, seratus gantang beras, seratus butir kelapa dan beserta selemak semanis. Tak ketinggalan, korban juga harus membayar hutangdenda ayahnya yang telah kabur. (ald)

Posting Komentar

 
Dipublikasikan oleh : CV. BANIO SAKTI Portal Web Merdekapost.net | Berani, Agresif, Aspiratif
Copyright © 2011. |Merdekapost.net |MERDEKAPOST.NET - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Merdekapost.net