Headlines News :

PKB: Pancasila Perlu Dijadikan Spiritualitas Baru Bangsa

MerdekaPost | Minggu, 19 Juni 2011

Jakarta - Ketua Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa, M Hanif Dhakiri, mengatakan, Pancasila perlu dikembangkan menjadi spiritualitas baru bangsa Indonesia dalam rangka menghadapi tantangan dunia, baik domestik maupun internasional, yang berubah cepat.
"Pancasila sebagai spiritualitas baru diharapkan menjadi energi gerak kolektif bangsa Indonesia untuk perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik," kata Hanif di Jakarta, Sabtu.

Hanif mengemukakan hal itu menanggapi wacana revitalisasi dan reaktualisasi Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Menurut Hanif, Pancasila berpotensi menjadi spiritualitas baru atau energi gerak karena merupakan kristalisasi dari nilai-nilai dan tradisi luhur bangsa yang digali oleh pendiri bangsa Indonesia.

Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPR RI itu menilai, dewasa ini telah terjadi gejala pendangkalan nasionalisme di banyak tempat dan lapisan masyarakat. Mulai dari kalangan elit hingga ke kalangan masyarakat bawah.

Dia mencontohkan problem korupsi dan birokratisasi yang makin akut, serta memudarnya solidaritas dan toleransi sosial dalam masyarakat.
Dalam konteks global, Hanif mencontohkan kurang berdayanya bangsa Indonesia menghadapi dominasi dan hegemoni kekuasaan asing, terutama dalam soal penguasaan sumber daya alam nasional.
Dalam pandangan Hanif, menjadikan Pancasila sebagai spiritualitas baru atau energi gerak kolektif bangsa sangat penting dalam penataan seluruh kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, termasuk juga dalam hal relasi Indonesia dengan negara-negara lain maupun komunitas internasional.
"Kita perlukan Pancasila sebagai spiritualitas baru agar kita punya energi gerak kolektif untuk mengembalikan bangsa ini ke arah trisaktinya Bung Karno, yaitu negara-bangsa yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian Indonesia," katanya.

Untuk itu, imbuh Hanif, sosialisasi saja tidak cukup memadai untuk mendorong orang menghayati dan mengamalkan Pancasila. Selain diperlukan keteladanan para pemimpin di seluruh lapisan masyarakat, Pancasila juga perlu didialogkan secara terbuka dan kritis agar semakin meresap dalam pikiran dan perilaku seluruh warga bangsa.

"Pancasila itu kan ideologi terbuka. Ia harus didialogkan secara terbuka, kritis dan terus-menerus agar terjadi internalisasi dalam pikiran dan perilaku setiap warga negara. Tentu saja keteladanan para pemimpin tetap yang paling utama," katanya.

Hanif memandang kesalahan rezim Orde Baru dulu adalah menjadikan Pancasila sebagai ideologi tertutup yang ditafsirkan sepihak oleh penguasa.

Dikatakannya, butir-butir Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) secara substansi bagus karena mendefinisikan Pancasila secara operasional. Masalahnya adalah butir-butir P4 itu dulu tidak didialogkan secara terbuka dan kritis, melainkan diindoktrinasikan.

"Butir-butir P4 itu substansinya bagus karena mendefinisikan Pancasila secara operasional. Tapi dulu didoktrinkan, jadinya nggak efektif sebagai acuan pemikiran dan perilaku. Orang menerima karena takut disebut antiPancasila," katanya.

Oleh karena itu, Hanif mengusulkan agar butir-butir P4 zaman Orde Baru itu didialogkan lagi secara terbuka dan kritis sehingga akan lebih meresap dalam pemahaman dan perilaku sosial masyarakat. (ant)

Posting Komentar

 
Dipublikasikan oleh : CV. BANIO SAKTI Portal Web Merdekapost.net | Berani, Agresif, Aspiratif
Copyright © 2011. |Merdekapost.net |MERDEKAPOST.NET - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Merdekapost.net