Headlines News :

Lokalisasi Ditutup, PSK Kibarkan Bendera Setengah Tiang

MerdekaPost | Minggu, 19 Juni 2011

BLITAR - Ada-ada saja ulah para pekerja seks komersi (PSK) ini. Menandai penutupan tempatnya berpraktik selama ini, para PSK di lokalisasi Poluan, Desa Kendalrejo, Kecamatan Srengat (Kabupaten Blitar) melakukan upacara di depan wismanya.

Dengan disaksikan para petugas kepolisian, TNI, dan Satpol PP, para PSK itu mengibarkan bendera merah putih setengah tiang sebagai tanda berduka atas penutupan lokalisasinya. Para PSK umumnya beralasan, mereka diminta pergi begitu saja dari lokalisasi tanpa dibekali keterampilan apapun oleh Pemkab Blitar sebelum penutupan. Akibatnya, mereka mengaku secara mental belum siap untuk ‘kembali ke masyarakat` dan melakukan pekerjaan halal.

Sebagai inspektur upacara adalah Sulis yang juga Ketua RT di wilayah lokalisasi. Sedangkan petugas upacara, seperti yang membacakan teks Pancasila dan memimpin menyanyi lagu Indonesia Raya adalah para PSK itu sendiri. Upacara bendera ini ditutup dengan pembacaan doa yang juga dilakukan oleh PSK.

Ada yang menarik pada upacara ini, setelah teks Pancasila dibacakan, disusul dengan pembacaan curahan hati (curhat) dan protes para PSK dan pemilik wisma. Pembacaan curhat itu dibawakan mirip dengan pembacaan sila-sila Pancasila.

Bunyi curhat itu: satu Keuangan Yang Berkuasa; dua Kemanusiaan yang Biadab; tiga Perseteruan Indonesia; empat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Kebijaksanaan dan Kepentingan; lima Kebatilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Karena naskah curhat dibacakan oleh seorang PSK dengan lantang dan penuh perasaan, suasana yang awalnya biasa saja tiba-tiba berubah senyap. Para peserta upacara yang menundukkan kepala terlihat seperti teraduk-aduk emosinya sehingga banyak di antara mereka meneteskan air mata.

Selesai pembacaan naskah curhat, upacara ditutup dengan penghormatan pada bendera merah putih yang dikibarkan setengah tiang sebagai tanda berkabung.

Tepat pukul 09.00 WIB Rabu (8/6) kemarin, lokalisasi Poluan yang sudah operasional sejak tahun 70-an, resmi ditutup oleh Pemkab Blitar. Dua lokalisasi lain juga mengalami nasib serupa secara bersamaan. Yakni lokalisasi Pasirharjo di Kecamatan Talun, dan lokalisasi Ngreco di Kecamatan Selorejo.

Untuk menutup tiga lokalisasi terbesar di Kabupaten Blitar ini, prosesnya tidak mudah. Setelah bertahun-tahun selalu terjadi tarik-ulur, penutupan baru bisa terlaksana kemarin.

Proses penutupan kemarin berjalan lancar dan aman, tak seperti yang diisukan bahwa bakal terjadi perlawanan dari para pemilik wisma karena tak terima ladang usahanya ditutup.

Menandai penutupan tiga lokalisasi itu, Ketua Komite Pelarangan Prostitusi dan Penanganan Wanita Tuna Susila dan Pria Tuna Susila ((KPPP WTS-PTS) Kabupaten Blitar, Ali Mas’ud, membacakan Perda No 15 tahun 2008 dan SK Bupati No 188/231/409.012/KPTS/2011. Perda itu berisi larangan terhadap segala bentuk praktek prostitusi di Kabupaten Blitar per 8 Juni 2011. Jika masih ditemukan praktik prostitusi, pelakunya diancaman hukuman penjara 6 bulan dan denda Rp 50 juta. Selanjutnya, papan pengumunan itu dipasang di pintu masuk ketiga lokalisasi tersebut.

Saat membacakan sampai menancapkan papan pengumuman, Ali Mas’ud tak hanya bersama timnya. Ia juga dikawal ketat petugas Polres dan Kodim 0808 Blitar serta Satpol PP. Bahkan, AKBP Wahyono, Kapolres Blitar, langsung terjun sendiri mengatur pengamanan.

Namun, tak seperti yang diisukan bahwa penutupan bakal berlangsung ricuh, yang terjadi hanya sedikit eyel-eyelan saat tim KPPP tiba di lokalisasi Pasirharjo. Sejumlah pria menghadang dan melarang tim KPPP memasang papan pengumuman. Namun sebelum keadaan berubah ribut, petugas langsung melerai.

“Alhamdulillah, semua berjalan aman dan lancar,” ujar Ali usai melaksanakan penutupan ketiga lokalisasi.

Awalnya, direncanakan para PSK (yang diperkirakan berjumlah 180 orang dari ketiga lokalisasi) akan langsung diusir seiring dengan penutupan itu. Bahkan, mobil sudah disiapkan KPPP untuk mengangkut pulang para PSK ke tempat asalnya. Namun, pengusiran itu urung dilakukan.

Para PSK masih diberi kesempatan tinggal beberapa hari di lokalisasi yang ditutup itu sampai siap meninggalkannya tanpa paksaan. Direncanakan, para PSK akan dibawa ke Kediri untuk diberi kepelatihan keterampilan di sana. Tapi sejumlah PSK menolak karena merasa jauh.

Wasis Kuntoaji, aktivis yang getol membela nasib PSK di lokalisasi Poluan mendukung sikap Tri. Bahkan, kata Wasis, jika tak diberi modal dan keterampilan yang memadai, para PSK sudah sepakat untuk nekat bertahan di Poluan. (her/okezone)










Posting Komentar

 
Dipublikasikan oleh : CV. BANIO SAKTI Portal Web Merdekapost.net | Berani, Agresif, Aspiratif
Copyright © 2011. |Merdekapost.net |MERDEKAPOST.NET - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Merdekapost.net